Seniman Keramik Sang Otodidak

 20121103-Ngurah-Oka-dan-keramiknya

Sarat dengan pesan dan gugatan walau terbilang telah sepuh. Ngurah Oka yang lahir di Badung, 3 Maret 1935, ia bersentuhan dengan dunia keramik sejak tahun 1970-an, berbekal peralatan sangat sederhana dan terbatas saat itu. Layak jika ia menyandang penghargaan dari Bentara Budaya Award yang diberikan langsung oleh Jacob Oetama sang pemimpin media Kompas. Ia, Ngurah Oka berhasil dari rangkaian penilaian para Dewan Kurator Bentara Budaya pada awal Oktober lalu.

Tak disangka Ngurah Oka juga menjadi bagian dari staf pertama di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Saat ini ia bermukim di Desa Kapal, Kabupaten Badung. Tak banyak yang dilakukan saat ini dibanding masa mudanya. Tetapi, daya jangkaunya begitu luas setelah terbukti pernah melakukan pameran di Bentara Budaya Jakarta dan Yogyakarta. Begitu juga berpameran karya kerajinan Interior Design Indonesia di Jakarta. Juga kerap diundang menggelar eksibisi di banyak negara, antara lain di Los Angeles (Amerika), dan di Niciarita Fukoka (Jepang).

Maklum, dunia mudanya tak pernah diam dan selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Pernah menjadi tukang kayu, penjual kayu, dan apa saja saat usia muda. Sehingga kerasnya hidup saat ini sebanding dengan gugatannya sebagai seniman kerajinan tanah yang marah tentang ketersediaan tanah sebagai bahan baku saat ini. Ya, kebutuhan tanah ternyata menjadi prinsip utama dari pegiat seni keramik.

Memilih seni keramik, Ngurah Oka mengaku bahwa itu adalah bagian dari hidupnya. Nilai kesabaran adalah sesuatu yang selalu diucapkan dalam setiap obrolannya. Pada masa mudanya di tahun '60-an ia memulai dunia keramik dengan modal kenekatan untuk belajar. Dengan berkendara sepeda motor yang tentunya saat ini disebut motor lawas, ia kendarai ke Malang, Jawa Timur untuk belajar keramik. Tak puas sejenak untuk  belajar tentang teknik pembakaran tanah, ia bergeser ke Kasongan-Yogyakarta.

Tahun 1972, setelah Australian Atache menggelar pameran keramik dunia di Art Center Bali, ia melakukan studi pembuatan tungku (oven) sendiri. Banyak yang didapatkan dari proses pameran keramik di tahun itu bagi dirinya yang kemudian meneguhkan dirinya untuk belajar keramik di West Australia Institute of Technology (WAIT) di Perth, kemudian di Bendigo Pottre and Burwood Collage di Victorio.

Dari luar negeri itu, ia belajar betapa membuat keramik itu adalah gaya hidup. “Orang di sana (baca: Australia) membuat keramik itu sudah biasa. Itu aktivitas keseharian dan hoby. Setelah pulang kerja, mereka pergi ke toko tanah dan membeli peralatan pembuatan keramik. Jika tidak memiliki alat, bisa diperoleh di tempat penyewaan. Tidak ada yang luar biasa disana, semua dikemas menjadi gaya hidup yang biasa,” kata Ngurah Oka.

20121103-Ngurah-Oka01     20121103-Ngurah-Oka dokumentasi-Bentara-Budaya

Tentu gaya hidup orang di luar, tak menyerupai peradaban seni mengolah gumpalan tanah menjadi fungsional. Di Bali sendiri, keahlian orang mengolah tanah telah banyak. Dahulu, kata Ngurah Oka, pusat keramik itu ada di Ubung ketika kekuasaan Kerajaan Badung. Dan ada lagi di daerah Kapal di wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi. Tetapi, Ngurah Oka tak bisa membuat pal batu peradaban keramik di Bali. “Saya tak bisa menerangkan pengaruh mana keramik di Bali. Mau dikata dari Cina juga belum tentu. Sebaiknya kita tidak usah membicarakan itu,”ujarnya.
Jika saja pemerintah bisa berpikir cerdas untuk lebih menggairahkan para pengrajin dan seniman keramik, tentu penyediaan tanah atau bahan baku adalah masalah yang harus terpecahkan. Ucapan ini berulang-ulang keluar dari mulut Ngurah Oka sebagai pelaku seni keramik yang cukup lawas itu. Seakan memendam sesuatu yang sangat dalam dengan persoalan bahan baku. Ia sempat membandingkan dengan negeri Sakura Jepang, yang mana pemerintahnya sangat melindungi bagian tanah untuk bahan pembuatan keramik.

Tak hanya teknis yang ia sampaikan. Ternyata secara mental menjadi prasayarat adanya totalitas juga tergambar pada sosok Ngurah Oka ini. “Saya pernah menjual anting-anting anak saya untuk membeli tanah untuk bahan keramik,” ujarnya.  Pesan ini tentu memberikan sinyal kepada para seniman muda bahwa apa yang harus dilakukan dilandasi dari rasa kecintaan akan aktifitas yang akan digeluti.

Pengetahuan dan pengalaman sang otodidak ini, mejadi prsayarat lainnya untuk pencapaian dari seni.
Membicarakan dampak ekonomis dari karya keramik, agaknya tak membuat dirinya tertarik, “Lakukan dulu prosesnya jangan terpengaruh dengan nilai dari pasar. Karena pasar bisa diciptakan sendiri tanpa obsesi laku atau tidak,” kata Ngurah Oka.

 

Add comment